Amuntai, lintaskalsel.com
Wakil Gubernur Kalse H. Hasnuryadi Sulaiman didampingi Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Kalsel, drg. Hj. Ellyana Trisya Hasnuryadi, mengunjungi Kelompok Usaha Galeri Kembang Ilung di Desa Banyu Hirang, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Kunjungan tersebut seusai melaksanakan Safari Ramadan 1447 Hijriah dan buka puasa bersama di Masjid Rasyidiyah, Desa Telaga Silaba, Kecamatan Amuntai Sabtu ( 7/3/2026) malam dan ini merupakan inisiasi Bupati Hulu Sungai Utara, H. Sahrujani, yang ingin menunjukkan potensi kerajinan khas daerah yang telah berkembang pesat dan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat setempat, bahkan telah menembus pasar nasional hingga mancanegara.
Selain itu, kunjungan ini juga menjadi bentuk perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terhadap perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah, khususnya pada sektor kerajinan berbahan baku lokal yang memiliki nilai ekonomi dan budaya tinggi.
Galeri Kembang Ilung dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan yang memproduksi aneka anyaman bernilai seni tinggi dengan bahan dasar eceng gondok (ilung) dan purun.
Produk yang dihasilkan pun cukup beragam, mulai dari tas, dompet, topi, sandal hotel, kursi atau mebel, boks penyimpanan hingga berbagai dekorasi rumah (home decor).
Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, H. Hasnuryadi Sulaiman memberikan apresiasi terhadap ketahanan ekonomi masyarakat yang mampu bertahan dan berkembang melalui sektor UMKM.
Menurutnya, kerajinan khas Hulu Sungai Utara memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan, bahkan hingga menembus pasar internasional.
“Produk kerajinan dari HSU ini kualitasnya sangat baik dan bahkan sudah menembus pasar luar negeri. Ini menunjukkan bahwa karya masyarakat banua memiliki daya saing tinggi,” ujarnya.
Wagub Hasnuryadi juga menyoroti peran industri kerajinan tersebut dalam pemberdayaan masyarakat.
Usaha berbasis keterampilan tradisional ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi ratusan masyarakat.
“Keterampilan mengolah bahan baku lokal seperti purun dan ilung ini diwariskan secara turun-temurun. Dari ibu rumah tangga kemudian berkembang menjadi usaha yang mampu menyerap banyak tenaga kerja,” tambahnya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan juga terus mendorong digitalisasi pemasaran bagi para pelaku UMKM. Berbagai pelatihan digital diberikan agar para pengrajin mampu memperluas pasar melalui platform online.
Sebagai bentuk dukungan nyata, pemerintah juga menyediakan outlet khusus bagi produk UMKM di bandara melalui Dinas Koperasi dan UKM. Para pengrajin dapat menitipkan produknya dengan sistem konsinyasi tanpa dipungut biaya.
Tidak hanya itu, pemerintah juga memperkuat pemasaran produk lokal melalui kebijakan daerah. Berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan, toko swalayan modern diwajibkan menyediakan ruang sebesar 30 persen untuk produk-produk lokal.
“Ini salah satu upaya agar produk UMKM kita bisa lebih mudah dipasarkan dan dikenal masyarakat luas,” jelas Wagub Hasnur.
Melalui dukungan berbagai pihak dan semangat “HSU Bangkit”, Hasnuryadi berharap kerajinan khas Hulu Sungai Utara tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga mampu memperkuat perekonomian masyarakat Kalimantan Selatan secara berkelanjutan. (Surya)






