Bogor, lintaskalsel.com
Kemendagri melalui Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) melaksanakan diseminasi dan dialog Hasil Kajian Inovasi Tematik Smart City tahun 2026. Disemenasi ini sebagai bagian dari upaya perluasan dan penguatan kebijakan implementasi Smart City di daerah,
Kegiatan digelar secara daring maupun luring di Padjajaran Suite Resort & Convention Hotel, Kota Bogor, Jawa Barat tersebut berlangsung selama dua hari, 23-24 Oktober 2026.
Langkah ini dilaksanakan BSKDN bekerja sama dengan tim kajian dari Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) untuk merumuskan solusi berbasis inovasi bagi daerah sasaran, dalam hal ini Kota Banjarmasin dan Kabupaten Sragen melalui metode matching analysis terhadap best practices yang ada di Kabupaten Banyuwangi dan Kota Bandung.
Pelaksana Tugas Kepala BSKDN, Raden Gani Muhamad dalam arahannya menjelaskan pentingnya kedalaman analisis pada program tersebut.
“Kajian inovasi tematik ini merupakan analisis mendalam atau studi strategis yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif berbasis teknologi dan tata kelola pada tema atau dimensi spesifik perkotaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, beliau menegaskan hakikat mendasar dari inovasi itu sendiri.
“Inovasi adalah wujud nyata kemampuan berpikir manusia, rasa ingin tahu hingga proses kreatif yang menghasilkan nilai tambah. Filosofinya tentu bukan sekadar menciptakan teknologi baru atau meluncurkan produk yang modern,” jelasnya lagi.
Oleh karena itu, dirinya menilai inovasi menjadi instrumen krusial dalam menjalankan roda pemerintahan daerah sebagaimana telah diamanatkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.
“Hakikat inovasi itu dinamis dan ini penting dalam meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan, layanan publik hingga daya saing daerah,” ucapnya
Upaya ini, ujar Gani, sekaligus mendukung arah kebijakan nasional pada RPJMN 2025–2029, di mana inovasi daerah tidak lagi difokuskan hanya pada membangun aplikasi semata, namun memberi jawaban atas masalah mendasar masyarakat seperti kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, layanan kesehatan dan pendidikan, hingga kemandirian fiskal.
Informasi terhimpun, Kabupaten Sragen dan Kota Banjarmasin mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5,6% pada tahun 2025, kendati demikian, tantangan spesifik masih dihadapi kedua daerah tersebut.
Di Sragen, persentase penduduk miskin masih berada pada angka 11,22%. Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Banjarmasin tercatat sebesar 6,49% yang berarti memerlukan sinergi kuat antara dunia kerja, pelatihan, dan lapangan usaha.
Raden Gani juga menekankan adaptasi inovasi dari daerah rujukan (Kabupaten Banyuwangi dan Kota Bandung, red) harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah sasaran.
“Artinya pembelajaran inovasi dari daerah rujukan ini diharapkan bisa direplikasi secara cermat agar sesuai dengan karakteristik, kemampuan fiskal, serta kebutuhan riil masyarakat di Sragen dan Banjarmasin, tentu diselaraskan dengan struktur dan kultur masyarakat yang ada di daerah tersebut,” tutupnya.
Dalam kesempatan itu, diskusi bersama seluruh narasumber dan pemerintah daerah rujukan berjalan cukup intens guna membahas hasil kajian inovasi tematik yang disajikan.
Direktur LAIP Kemkomdigi, Aris Kurniawan menyebut saat ini penataan pelayanan publik kota cerdas tengah diarahkan pada pendekatan Pemerintah Digital (PEMDI), beralih dari Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
“Konsep ini kita lakukan penyesuaian kembali, dengan upaya pendampingan masif secara bertahap yang dilakukan, target dan piloting use case teknologi digital pada kota cerdas dalam 5 tahun ke depan akan terus ditambah dengan mengukur karakteristik wilayah, indikator dan syarat-syarat lainnya yang harus dipenuhi daerah,” terangnya.
“Arah pengembangannya tentu jelas, ekosistem pusat data nasional, diarahkan kesana dan erat kaitannya pusat data hijau yang berfungsi memaksimalkan dampak lingkungan, lewat energi terbarukan sebagai bagian dari transformasi digital,” tambah Aris.
Menyambung hal itu, Ahli Ikatan Pusat Data Hijau Indonesia (IPUSTAH-ID), Said Madrus menuturkan bahwa kebutuhan pengembangan teknologi digital saat ini semakin kompleks. Ia menyoroti sesuai apa yang telah diatur Kementerian ESDM dan telah disepakati bersama Kemenkeu tentang koservasi energi ini harus dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah melalui manajemen energi pada pemanfaatan energi.
Adapun hasil kajian inovasi tematik yang disajikan dari Kabupaten Banyuwangi yang disampaikan Plt Kepala Bappeda, Amir Hidayat meliputi Smartkampung dan Banyuwangi One.id yang dinilai cukup berhasil dan dampaknya dirasakan warga.
Sementara hasil kajian inovasi tematik yang disajikan Kota Bandung melalui Analis Kebijakan Ahli Muda Bapperida, Ginansyah Munggaran yakni Bandung Super Maps (BSM) Pro berbasis geospasial yang cukup menyita perhatian Pemerintah Kota Banjarmasin karena telah berhasil mengakomodasi kebutuhan warga di tingkat akar.( Surya).






