Banjarmasin, lintaskalsel.com
Badan Kerjasama Organisasi Wanita Provinsi Kalimantan Selatan bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Kalimantan Selatan menggelar Sosialisasi Pemberdayaan Perempuan Bidang Sosial Keagamaan di Hotel Roditha, Banjarmasin, Kamis 9 Juli 2026 mulai pukul 09.30 WITA hingga selesai.
Tema yang diusung “Muharram Membentengi Generasi Muda dari Dampak Era Globalisasi”.
Tercatat sebanyak 50 peserta hadir, terdiri dari 30 pengurus BKOW Kalsel dan Forum Bunda Bahagia, serta 20 pelajar SMA/MA sederajat se-Kota Banjarmasin dan dibuka Kepala DP3AKB Provinsi Kalimantan Selatan, Husnul Khatimah. Ketua Umum BKOW Kalsel drg. Hj. Ellyana Hasnuryadi dalam sambutan tertulis dibacakan Wakil Ketua 1 BKOW Kalsel, Hj. Nuril Huda menyatakan bulan Muharram kita jadikan momentum untuk membentengi diri, keluarga, dan generasi muda dari derasnya arus globalisasi.
” Perempuan adalah madrasah pertama sehingga dari tangan perempuan lahir generasi yang kuat iman dan karakternya,” ujar Hj. Nuril Huda
Pada kesempatan itu juga dihadirkan melalui penampilan Madihin Milenial oleh Fadil & Zaini. Syair madihin tentang Perempuan Banua yang mendapat sambutan hangat peserta.
Disosialisasi pemberdayaan perempuan dihadirkan dua narasumber skala nasional yakni
Prof. Dr. Mujiburahman, M.A. Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin dan Dr. Afitra Salam, APU pakar politik dari Jakarta.
Mujiburahman mengupas dampak era informasi. Ia memaparkan 3 gelombang peradaban: Agraris, Industri, dan Informasi.
“Teknologi memiliki 3 kekuatan: Power, Speed, dan Accuracy. Tapi kita harus menjadi Tuan yang menggunakan teknologi, bukan budaknya,” tegas Prof. Mujib.
Ia menyoroti fenomena _alone together_, _economy of attention_, _flexing_, dan _viral_ yang membentuk karakter manusia haus validasi. “Ini yang disebut brain drown. Otak tenggelam karena banjir informasi. Solusinya, segera bertobat, kembali ke nilai. Gunakan media untuk kebaikan, lakukan riset, buat konten bermanfaat, dan jaga digital security,” pesannya.
Prof. Mujib juga mengajak menolak stigmatisasi terhadap generasi muda. “Dulu ada mitos orang Melayu malas dan mudah dijajah. Sekarang muncul mitos generasi stroberi. Padahal segala sesuatu di dunia bergerak dan tumbuh. Itu harus kita lawan bersama.
Selain itu Prof. Dr. Mujiburahman, M.A mengupas dampak era informasi. Ia memaparkan 3 gelombang peradaban: Agraris, Industri, dan Informasi.
“Teknologi memiliki 3 kekuatan: Power, Speed, dan Accuracy. Tapi kita harus menjadi Tuan yang menggunakan teknologi, bukan budaknya,” tegas Prof. Mujib.
Ia menyoroti fenomena _alone together_, _economy of attention_, _flexing_, dan _viral_ yang membentuk karakter manusia haus validasi. “Ini yang disebut brain drown. Otak tenggelam karena banjir informasi. Solusinya, segera bertobat, kembali ke nilai. Gunakan media untuk kebaikan, lakukan riset, buat konten bermanfaat, dan jaga digital security,” pesannya.
Prof. Mujib juga mengajak menolak stigmatisasi terhadap generasi muda. “Dulu ada mitos orang Melayu malas dan mudah dijajah. Sekarang muncul mitos generasi stroberi. Padahal segala sesuatu di dunia bergerak dan tumbuh. Itu harus kita lawan bersama.”
Sementara Dr. Afitra Salam, APU*, pakar politik dari Jakarta, mengangkat materi _”Perempuan dan Politik: Membangun Ekosistem Kepemimpinan yang Setara”_.
Ia menyoroti masih tingginya praktik money politik sebagai penghambat keterwakilan perempuan. “Money politik saat ini di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Aturan sering dibuat oleh pemain untuk menguntungkan diri sendiri. Mayoritas, uang masih menjadi faktor penentu keterpilihan. Karena itu pendidikan politik sangat penting,” jelas Afitra. Ia juga mengusulkan agar KPU ditempatkan di luar kekuasaan Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif agar lebih independen.
*Diskusi: Dari Kuota 30% hingga Komunikasi dengan Orang Tua*
Sesi tanya jawab mencerminkan keresahan peserta. *Hj. Nahdatun Nusra* mempertanyakan efektivitas kuota 30% perempuan di politik dan meminta tips menghadapi _down scrolling_.
*Hj. Nor Bayti* menekankan, “Perempuan sering tidak bertahan di politik karena popularitas dan dinasti. Peran kita adalah mendampingi suami agar amanah, jujur, dan disiplin. Kita juga harus waspada terhadap westernisme hedonisme, LGBT, dan narkoba. Tindak lanjut kegiatan ini jangan berhenti di sini.”
Dari kalangan pelajar, Zulia Mahmudah dari SMAN 7 Banjarmasin menyampaikan hambatan perempuan untuk merantau dan membangun kepercayaan orang tua.
Fatihah dari SMA Islam Terpadu Ukhuwah menyebut brain drown mempengaruhi cara berpikir dan interaksi di media sosial.
Menjawab hal itu, Dr. Afitra menekankan pentingnya komunikasi dan kepedulian dalam keluarga. “Teknologi tidak bisa dibendung. Tapi kita bisa mengarahkannya,” katanya.
*Komitmen Lanjutan*
Diperlukan aksi tindak lanjut, agar apa yang dibicarakan hari ini tidak hanya selesai diruangan ini.
Kegiatan ditutup dengan foto dan makan siang bersama, terimakasih kepada panitia DP3AKB Kalsel, Ibu Budi, Shofa, Nadzira, dan Rizky, serta tim Bidang Moral Agama BKOW Kalsel, Rufaidah, Herlina, Melly, Yasmina, dan Ipiani.
Melalui sosialisasi ini, BKOW Kalsel dan DP3AKB Kalsel berharap lahir perempuan dan generasi muda yang tidak hanya melek digital, tetapi juga kokoh secara spiritual dan sosial. Sehingga mampu menjadi benteng keluarga dan bangsa di tengah derasnya arus globalisasi.( Surya).






