Banjar – lintaskalsel.com
Digitalisasi menimbulkan konsekuensi dan dampak besar, baik positif maupun negatif.
Bagi masyarakat yang berkualitas, cepat, dan lebih beradab tentu berdampak positif pada era digital, namun tergerusnya nilai-nilai budaya juga tak terhindarkan dengan adanya hasil perkembangan teknologi digital.
Hal ini yang menjadi kekhawatiran Anggota DPRD Provinsi Kalsel, Hj. Syarifah Rugayah, saat kegiatan Sosialisasi Propemperda, Rancangan Perda, Perda & Peraturan Perundang-undangan (Sosper) di Desa Sungai Tabuk Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Sabtu (6/1/2024).
Hj. Syarifah Rugayah menyampaikan bahwa pendidikan karakter berbasis kearifan lokal merupakan salah satu solusi untuk menghadapi isu-isu strategis terkini di era digital.
Penanaman kearifan lokal melalui lingkungan pendidikan ini sangat penting guna membekali generasi muda berakhlak ,hidup berbangsa dan bernegara.
“Pemerintah daerah berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan yang berbasis kearifan lokal, sehingga diadakan muatan lokal di sekolah. adanya perda nomor 4 tahun 2017 tentang budaya banua & kearifan lokal ini, pemerintah berharap pendidikan di Kalimantan Selatan akan menjadi lebih baik dan dapat meningkatkan kualitas generasi muda,” ungkap politisi Dapil Kabupaten Banjar ini.
Kearifan lokal dapat dijadikan sumber inspirasi dan pembelajaran bagi siswa dalam mengembangkan karakter diri. Namun sangat meremehkan adanya anggapan bahwa pendidikan, khususnya karakter pendidikan, hanya bisa diperoleh di lingkungan sekolah saja. Padahal tidak demikian ujar Syarifah Rugayah.
“Perda ini berisi himbauan, anjuran, dan dorongan dari pemerintah daerah untuk mengembangkan kearifan lokal bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari- hari- hari. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat.
Hal ini dikarenakan waktu anak berada di sekolah sangat singkat, sehingga diperlukan pemahaman bagi masyarakat tentang pendidikan yang wajib diberikan kepada anak,” tutur Syarifah Rugayah.
Lebih lanjut Syarifah Rugayah menekankan karakter pendidikan harus terus digencarkan, srikandi Golkar ini ingin adanya kerjasama antara sekolah dan orang tua siswa agar pelaksanaan pendidikan berbasis budaya banua dan kearifan lokal ini lebih efisien.
“Setiap sekolah harus memiliki komite atau perkumpulan orang tua murid yang memiliki struktur organisasi dan memberikan ruang untuk dialog antara orang tua murid. Hasil diskusi tersebut harus diterima dan dipertimbangkan oleh sekolah,” pungkas Syarifah Rugayah.
Pada kegiatan sosialisasi tersebut Hj. Syarifah Rugayah mengundang Muhammad Nasir, SE dan Mery Rosianti, SH sebagai narasumber.(surya)






